Kementerian Agama Kabupaten Sleman memberikan  pelayanan gratis  bagi masjid atau mushola yang ingin mengukur kebenaran arah kiblatnya atau masyarakat yang akan membangun masjid atau mushalla. Hal ini dilakukan, mengingat  masih sering ditemukannya perbedaan  arah kiblat antara masjid yang satu dengan yang lainnya yang tersebar di tengah masyarakat. Penentuan arah kiblat ini menjadi penting, karena menurut publikasi resmi untuk tempat sewilayah di Indonesia yang arah kiblatnya kurang dari 20 derajat atau lebih dari 26 derajat (dihitung dari titik barat) maka shalatnya tidak menghadap ke arah Kabah, di Makkah.

Padahal, selama ini penentuan arah kiblat dilakukan dengan berbagai cara oleh para pengurus Masjid di beberapa daerah di Indonesia.  Maka, untuk mempermudah akses penentuan arah kiblat shalat tersebut,  Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia  memberikan layanan gratis pengukuran arah kiblat masjid dan musola.

Dasar Hukum / Dalil Syar’i

Syarat sah shalat yang harus dilakukan sebelum melaksanakannya di antaranya adalah menghadap kiblat. (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 52, Darul Fikri dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82, Dar Ibnu Rojab)

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu),

Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912)

An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan, “Hadits ini terdapat faedah yang sangat banyak dan dari hadits ini diketahui pertama kali tentang hal-hal tadi adalah wajib shalat dan bukanlah sunnah.” Beliau juga mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan tentang wajibnya thoharoh (bersuci), menghadap kiblat, takbirotul ihrom dan membaca Al Fatihah.” (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 2/132)

Tatacara dan Persyaratan Permohonan Ukur Arah Kiblat

Kantor Urusan Agama Kecamatan Godean menfasilitasi pengukuran arah kiblat tempat ibadah di wilayah kecamatan Godean setempat tanpa biaya, baik itu masjid, musholla, langgar ataupun lapangan-lapangan yang akan digunakan untuk pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. 

Pengukuran arah kiblat ini dilakukan oleh Tim Ukur Arah Kiblat Kantor Kementerian Agama kabupaten Sleman.

Adapun tatacara dan persyaratannya adalah sebagai berikut:

  1. Takmir masjid/musholla/langgar membuat surat permohonan untuk pengukuran arah kiblat yang ditujukan kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman melalui KUA Kecamatan Godean. Surat permohonan ini dibuat rangkap 2 (dua). Lembar surat pertama untuk Kankemenag kab. Sleman dan lembar surat kedua untuk arsip dan dokumen KUA Kecamatan Godean.
  2. KUA Kecamatan Godean  melakukan sosialisasi Arah Kiblat kepada jama’ah/pengguna tempat ibadah.
  3. Pengajuan permohonan ukur arah kiblat ini diteruskan ke Kementerian Agama Kabupaten Sleman setelah dilakukan musyawarah dan disepakati antara takmir masjid/mushollah/langgar dengan para jamaahnya.
  4. Tim Badan Hisab Ru’yat (BHR) Kemenag Kab. Sleman melakukan pengukuran/kalibrasi Arah Kiblat didampingi petugas KUA Kecamatan Godean.
  5. Takmir/pengurus menyesuaikan shaf-shaf berdasarkan hasil ukur arah kiblat.
  6. Kementerian Agama Kab. Sleman menerbitkan Sertifikat Arah Kiblat.
  7. Takmir Masjid memasang Sertifikat Arah Kiblat di tempat yang mudah diketahui oleh Jama’ah.
  8. Adapun contoh form Surat Permohonan Ukur Arah Kiblatnya terlampir.